Rabu, 27 Februari 2013

ASKEP GOUT


BAB I
PENDAHULUAN

BAB I 

PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Pengetahuan tentang asuhan keperawatan muskuloskeletal makin dibutuhkan mahasiswa ataupun perawat selaku pemberi pelayanan kesehatan. Pergeseran tingkat pendidikan pada dunia keperawatan di Indonesia menuju era profesionalisasi menjadikan asuhan keperawatan pada pola asuhan per sistem.
Perkembangan asuhan keperawatan sistem muskoskeletal sendiri sejak lama tidak lepas dari bedah ortopedi, suatu disiplin ilmu dari bagian medis yang di Indonesia sekarang ini masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keadaan masih adanya pereanan yang cukup besar dari ahli urut tulang (khususnya di daerah), yaitu lebih dari 25% klien berobat ke ahli urut tulang/dukun patah tanpa memnadang derajat sosial dan pendidikan dan umumnya datang ke rumah sakit setelah timbul penyulit atau penyakit sudah dalam stadium lanjut. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, salah satu fungsi dari peranan perawat adalah mensosialisasikan pada masyarakat umum guna mencegah/menghindari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Oleh karena itu, kami menyusun makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Muskuloskeletal: “ Gout “. Dengan harapan sebagai perawat kita mampu memahami konsep penyakit yang dialami klien dengan gangguan sistem Muskuloskeletal, khususnya Gout, sehingga kita pun mampu memberi asuhan keperawatan yang tepat dan konprahensif, yang meliputi pengenalan konsep anatomi fisiologi, dan patofisiologi sistem muskuloskeletal, pengkajian untuk menegakkan masalah keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan, sampai mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada masalah sistem muskuloskeletal.

B.  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kami bahas adalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi dari Gout?
2.      Apa  saja ethiologi terjadinya Gout?
3.      Apa saja manifestasi klinis yang muncul pada Gout?
4.      Bagaimana patofisiologi terjadinya Gout?
5.      Apa saja komplikasi yang terjadi akibat Gout?
6.      Bagaimana proses tatalaksana pada pasien Gout?
7.      Bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien Gout?

C.  Tujuan Penulisan

1.    Tujuan Umum
Makalah Asuhan Keperawatan ini dibuat sebagai pedoman atau acuan kami dalam membandingkan antara teori dan praktik dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan Gout (Asam Urat ), serta untuk mengetahui informasi-informasi mengenai Gout lebih dalam.
2.    Tujuan Khusus
a)   Mengetahui pengertian Gout
b)    Mengetahui ethiologi dari Gout
c)   Mengetahui manifestasi klinis Gout
d)  Mengetahui bagaimana patofisiologi dari Gout
e)   Mengetahui komplikasi dari Gout
f)    Mengetahui bagimana tatalaksana pada pasien Gout
g)   Mengetahui cara memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan Gout

D.  Manfaat Penulisan

1.    Bagi Penulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit Gout agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik
2.    Bagi Pembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang Gout lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit Gout.
3.    Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Gout sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik
4.    Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang Gout sehingga tercipta proses belajar mengajar yang efektif
   

BAB II

KOSEP DASAR MEDIS


A.    Definisi

Arthritis pirai atau gout adalah arthritis akut dan atau kronis pada sendi yang disebabkan oleh gangguan pembentukan asam urat ( Tucker et al, 1998 )
Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi (Pusdiknakes, 1995 )
Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. ( Merkie, Carrie. 2005 ).
Gout merupakan penyakit  metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang menyebabkan nyeri pada sendi. ( Moreau, David. 2005 ; 407) .
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic  pada metabolism purin atau hiperuricemia. ( Brunner & Suddarth. 2001 ; 1810 ).
Jadi, Gout atau  sering disebut “asam urat” adalah suatu penyakit metabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi. (Kesimpulan Kelompok).

B.     Insiden

95% penderita Gout ditemukan pada pria. Gout sering menyerang wanita post menopouse usia 50 – 60 tahun. Juga dapat menyerang laki-laki usia pubertas dan atau usia di atas 30 tahun. Penyakit ini paling sering mengenai sendi metatrsofalangeal, ibu jari kaki, sendi lutut dan pergelangan kaki.
  

C.     Etiologi

Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebabkan hyperuricemia. Hyperuricemia dalam hal ini disebabkan oleh : Hiperproduksi asam urat yang berlebihan, Gout primer metabolic disebabkan distensi langsung yang bertambah, Gout sekunder metabolic disebabkan pembentukan asam urat berlebih karena penyakit lain. Seperti leukemia, Hiposekresi asam urat yang biasanya dikarenakan gangguan fungsi ginjal

D.    Patofisiologi

Serangan asam urat berhubungan dengan kadar asam urat serum meninggi ataupun menurun. Pada kadar asam urat serum yang stabil jarang mendapat serangan. Penurunan urat serum dapat mencetuskan pelepasan kristal monosodium urat dari depositnya. Pada beberapa pasien gout atau yang dengan hipererusemia asimtomatik kristal urat ditemukan pada sendi metatrsofalangeal dan lutut yang sebelumnya tidak mendapatkan serangan akut.
Dengan demikian, gout dapat timbul dalam keadaan asimtomatik. Pada serangan gout akut terdapat peran temperatur, pH dan kelarutan urat. Menurunya larutan sodium urat pada temperatur lebih rendah pada sendi perifer, seperti pada kaki dan tangan untuk pengendapan kristal metatrsofalangealberhubungan juga dengan trauma ringan yang berulang – ulang pada daerah tersebut. Kecepatan difusi molekul urat dari ruang sinovia ke dalam plasma darah hanya setengah kecepatan air, dengan demikian konsentrasi urat dalam cairan sendi menjadi seimbang dengan urat dalam plasma darah pada siang hari selanjutnya bila cairan sendi direabsorbsi waktu berbaring, akan terjadi kadar urat lokal. Fenomena ini dapat menerangkan terjadinya serangan gout akut pada malam hari pada sendi yang bersangkutan. Peradangan atau inflamasi merupakan reaksi penting pada artritis gout terutama gout akut. Reaksi ini merupakan reaksi pertahanan tubuh non spesifik untuk menghindari kerusakan akibat dari agen penyebab peradangan pada artritis out adalah akibat penumpukan agen penyebab yaitu kristal monosodium urat pada sendi.
  

E.     Manifestasi Klinik

Gout berkembang dalam 4 tahap :
1.    Tahap Asimptomatik : Pada tahap ini kadar asam urat dalam darah meningkat, tidak menimbulkan gejala.
2.    Tahap Akut : Serangan akut pertama datang tiba-tiba dan cepat memuncak, umumnya terjadi pada tengah malam atau menjelang pagi. Serangan ini berupa rasa nyeri yang hebat pada sendi yang terkena, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan perlahan-lahan akan sembuh spontan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 14 hari.
3.    Tahap Interkritikal : Pada tahap ini penderita dapat kembali bergerak normal serta melakukan berbagai aktivitas olahraga tanpa merasa sakit sama sekali. Kalau rasa nyeri pada serangan pertama itu hilang bukan berarti penyakit sembuh total, biasanya beberapa tahun kemudian akan ada serangan kedua. Namun ada juga serangan yang terjadi hanya sekali sepanjang hidup, semua ini tergantung bagaimana sipenderita mengatasinya.
4.    Tahap Kronik : Tahap ini akan terjadi bila penyakit diabaikan sehingga menjadi akut. Frekuensi serangan akan meningkat 4-5 kali setahun tanpa disertai masa bebas serangan. Masa sakit menjadi lebih panjang bahkan kadang rasa nyerinya berlangsung terus-menerus disertai bengkak dan kaku pada sendi yang sakit.
Tanda yang mungkin muncul:
1.      Tampak deformitas dan tofus subkutan
2.      Terjadi penimbunan Kristal  urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal
3.      Terjadi ureni akibat penimbunan urat pada ginjal
4.      Mikroskopik tampak Kristal-kristal urat di sekitar daerah nekrosis
 Komplikasi :
1.        Ginjal : Batu ginjal, Gagal ginjal akut / kronis
2.        Kardiovaskuler : Hipertensi, Payah jantung
3.        Penyakit metabolik lain : Diabetes, Hiperlipidemia 

F.      Pemeriksaan Diagnostik

1.    Pemeriksaan laboratorium
Kadar asam urat yang tinggi dalam darah (>6 mg%). Kadar asam urat normal dalam serum pria 8 mg% dan wanita 7 mg%. kadar asama urat dalam urin juga tinggi ( 500 mg%/liter per 24 jam )
2.      Pemeriksaan cairan tofi
3.      Pemeriksaan cairan sendi = Gold Standard, ditemukan kristal yang mengendap pada sendi
4.      Rontgen, adanya tofus pada tulang dan juga persendian

G.    Penatalaksanaan

Penatalaksanaan non medik
1.      Pola diet]
 Golongan A ( 150 - 1000 mg purin/ 100g ) :
Hati, ginjal, otak, jantung, paru, lain-lain jerohan, udang, remis, kerang, sardin, herring, ekstrak daging, ragi (tape), alkohol, makanan dalam kaleng·         Golongan B ( 50 - 100 mg purin/ 100g ) :
Ikan yang tidak termasuk gol.A, daging sapi, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun singkong, daun pepaya, kangkung
 Golongan C ( < 50mg purin/ 100g ) :
Keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan
2.      Bahan makanan yang diperbolehkan :
Semua bahan makanan sumber karbohidrat, kecuali havermout (dalam jumlah terbatas), Semua jenis buah-buahan, Semua jenis minuman, kecuali yang mengandung alkohol, Semua macam bumbu
3.      Tirah baring
Merupakan suatu keharusan dan diteruskan sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Goat dapat kampuh bila terlalu cepat bergerak.
Penatalaksanaan medik
1.      Fase akut
Obat yang digunakan:
a.    Colchisin
b.   Phenilbutazone
c.    Indomethacin
2.      Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi :
a.    Gol. Urikosurik
Proberasid : menurunkan asam urat dalam serum
Sulfinpirazon : merupakan dirivat pirazolon
Azapropazon : mempunyai efek antiinflamasi
Bensbromaron : menurunkan kadar asam urat menghambat penyerapan kembalinasam urat pada bagian tubulus renalis.
3.      Inhibitor  xantin (aloporinol)
Suatu inhibitor  oksidase poten ,bekerja mencegah konversi
Hipoxantin menjadi xantin, dan korversi xantin menjadi asam urat

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN


A.    Pengkajian

1.    Identitas
Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, golongan darah, nomor register, tanggal MRS dan diagnose medis.
2.    Keluhan utama
Umumnya pada kasus Gout nyeri pada sendi ibu jari kaki.
3.    Riwayat penyakit sekarang
Pengumpulan data dilakukan sejak munculnya keluhan dan secara umum mencakup gejala.
4.    Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini ditanyakan kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya gout, pernahkan klien dirawat dengan kasus yang sama, kaji adanya pemakaian alcohol yang berlebihan dan penggunaan obat diuretic.
5.    Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya  keluarga yang mempunyai riwayat keluhan yang sama dan riwayat penyakit yang lainnya.
6.    Riwayat psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang diderita dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat.
7.    Pemeriksaan Fisik
a.    B1 (Breathing)
Inspeksi : biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, tidak sesak napas dan tidak menggunakan alat bantu napas
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : suara resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : suara napas hilang atau melemah pada sisi yang sakit. Biasanya mendapatkan suara ronkhi atau mengi
b.   B2 (Blood)
CRT < 1 detik, keringat dingin, pusing karena nyeri,suara S1 dan S2 tunggal
c.    B3 ( Brain)
Adanya sianosis, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis
d.   B4 (Bladder)
Produksi urin dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada system perkemihan kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke ginjal berupa pielonefritis, batu asam urat dan gagal ginjal kronik
e.    B5 (Bowel)
Kebutuhan eliminasi tidak terganggu tetapi perlu dikaji karakteristik dari feses. Klien biasanya mual, mengalami nyeri lambung dan tidak nafsu makan pada klien yang memakan obat analgesic dan anthiperurisemia.
f.    B6 (Bone)
Adanya nyeri tekan pada sendi kaki yang membengkak, hambatan gerak sendi biasanya tambah berat

B.     Diagnosa Keperawatan

1.    Gangguan rasa nyaman nyeri  berhubungan dengan proses inflamasi
2.    Gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi
3.    Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan proliferasi synovial
4.    Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh, tulang dan sendi

C.     Intervensi

1.    Diagnosa I : Gangguan rasa nyaman nyeri  berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri berkurang
KH : klien terlihat lebih rileks, skala nyeri 0-1 atau teratasi
Intervensi :
a.    Kaji lokasi nyeri, intensitas tipe nyeri dan skala nyeri
R/ : untuk memudahkan melakukan pengobatan
b.     Ajarkan teknik relaksasi yang terkait ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi intensitas nyeri.
R/ : akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen pada jaringan terpenuhi dan mengurangi nyeri
c.     Ajarkan metode distraksi
R/ : untuk mengalihkan perhatian terhadap nyeri ke hal yang menyenangkan
d.   Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri
R/: membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik
e.    Hindarkan klien minum alcohol, cafein, dan obat diuretic
R/ : pemakaian alcohol, cafein, dan obat diuretic akan menambah peningkatan kadar asam urat dalam serum
f.     Kolaborasi: pemberian alopurinol
R/: menghambat biosintesis asam urat sehingga menurunkan kadar asamurat dalam serum.

2.    Diagnosa II : Gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam panas berkurang
KH : Suhu 36o cc – 37o cc, klien bebas demam
Intervensi :
a.    Kaji saat timbulnya demam
R/: Identifikasi pola dan tingkat demam
b.    Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tekanan darah, tekanan darah, respiratory rate setiap 3 jam
R/: TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum klien
c.    Anjurkan klien untuk banyak minum ± 2,5-3 liter/hari
R/: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang cukup
d.   Berikan kompres dingin dan anjurkan memakai pakaian tipis
R/: kompres dingin membantu menurunkan suhu tubuh, pakaian tipis akan membantu meningkatkan penguapan panas tubuh
e.    Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antipiretik
R/: Antipiretik yang mempunyai reseptor di hipotalamus dapat meregulasi suhu tubuh sehingga suhu tubuh dapat di upayakan mendekati suhu normal

3.    Diagnosa III : Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan prolifersi synovial
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya
KH : kekuatan otot bertambah, tidak mengalami kontraktur sendi
Intervensi :
a.    Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan
R/: Untuk mengetahui tingkat kemampuan dalam melakukan aktivitas
b.    Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang tidak sakit
R/: Gerakan aktif memberi masa tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan
c.    Bantu klien melakukan latihan ROM
R/: Untuk mempertahankan fleksibilitas sendi sesuai kemampuan
d.   Pantau kemajuan dan perkembangan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
R/: untuk mengkaji perkembangan klien
e.    Kolaborasi  dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
R/: kemampuan mobilisasi ekstermitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi 

4.    Diagnosa IV : Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh, tulang dan sendi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam klien dapat meningkatkan percaya diri nya dan mulai menerima keadaan patologisnya
KH : Klien menyatakan penerimaan diri dalam situasi, bekerja sama dalam perubahan konsep diri tanpa pandangan negative harga diri
Intervensi :
a.    Kaji respon klien terhadap penyakit yang di alami
R/: Mengetahui keluhan klien dan mempermudah melakukan asuhan keperawatan selanjutnya
b.    Bersikap realistis dan positif selama pengobatan dan pada penyuluhan kesehatan
R/: Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat
c.    Berikan harapan dalam parameter situasi individu, jangan memberikan keyakinan yang salah
R/: Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas
d.   Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorong usaha untuk mengikut tujuan rehabilitasi
R/: Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif
e.    Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi
R/: Mempertahankan komunikasi dan memberikakn dukungan terus menerus pada pasien dan keluarga
  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Gout  adalah cairan asam urat dalam tubuh yang mengalami peningkatan yang disebabkan oleh hiperproduksi dan hiposekresi asam urat yang menimbulkan hyperurisemia.
Cairan asam urat tersebut terakumulasi dan membentuk Kristal-kristal yang bersifat korosif sehingga menimbulkan peradangan, tofus dan nyeri pada tulang dan juga persendian.

DAFTAR PUSTAKA


Anggota IKAPI. 1998. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta ; EGC
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser. (1999). Rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC)
Drs. H. Syaifuddin, AMK. 2006. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC
Lukman, Ningsih Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika
Arief Mansjoer,dkk.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Ed. 3. Penerbit Media Esculapius FKUI. Jakarta.
Price & Wilson. 2006. Patofisologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC
Suratun, Heryati dkk. 2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeleta. Jakarta : EGC


Setelah Baca Silahkan Comment Disini Jangan Lupa Mampir Lagi! SOPAN KAMI SEGAN

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar